.: best viewed with mozilla firefox :.
.: Dapatkan Paket Lengkap Persiapan Tes CPNS Hanya di Sini!!! :. .: Diskon 20% untuk semua Produk selama Ramadhan :.

Kenali Karakter Istri Anda

Jika kita kenal karakter pasangan, dijamin konflik dapat diminimalisasi. Bukankah dengan kenal kita bisa memahaminya hingga solusi pun bisa ditemukan? Nah, seperti apa karakter istri Anda, silakan simak di bawah ini.

1. BOROS

Coba lihat bagaimana karakter orangtuanya. Soalnya, kata psikolog Raymond AI Tambunan dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta, mereka yang boros biasanya dibesarkan dari orangtua yang boros pula. "Jadi, sejak kecil memang sudah terbiasa dengan pola hidup boros." Umumnya lebih impulsif, yakni tak bisa menunda keinginan. Bila menginginkan sesuatu, ia pasti langsung membelinya.

Kendati demikian, pola asuh bukan satu-satunya yang membentuk seseorang berkembang jadi boros. Ada juga kok yang dulunya hidup miskin, tapi setelah dewasa jadi boros. "Kalau sekarang ia hidup bergelimang harta karena berhasil mencapai pendidikan tinggi hingga punya karier dan penghasilan bagus, tentunya apa pun yang ia inginkan bisa dibeli dengan mudah hingga membentuknya jadi pribadi yang boros." Jadi, sikap borosnya lebih merupakan kompensasi masa kecil yang serba susah.

2. PELIT

Sepertinya karakter ini sudah menjadi semacam trade mark kaum ibu. Bukankah para ibu lebih suka berkeliling pasar menawar ke sana ke mari demi mendapatkan harga termurah? Orang luar boleh saja berkomentar, "Kok mau beli itu saja mesti dihitung-hitung banget? Berapa sih selisih harganya? Apa enggak capek buang-buang energi?" Padahal, ibu-ibu model ini belum tentu pelit lho. Siapa tahu ia cuma bermaksud hemat. Apalagi secara sosiologis, terang Raymond, ibu-ibu di negeri kita umumnya bertanggung jawab memegang keuangan keluarga, sementara suami bertugas mencari nafkah.

"Nah, sebagai manejer keuangan keluarga, tentu ia harus pandai-pandai mengatur keuangan keluarganya, bukan? Itu sebab perbedaan-perbedaan harga yang oleh orang luar dinilai sepele, bagi si ibu sangat berarti." Sebaliknya, si pelit dalam arti tak mau berbagi biasanya diwarnai posesivitas, yaitu keinginan untuk memiliki yang begitu kuat. Karakter ini sebenarnya dibawa dari masa 5 tahun pertama. "Bila pada tahap usia ini anak kelewat diatur-atur hingga terbiasa menahan segala keinginannya karena tak boleh ini maupun itu, ia berkembang jadi pribadi yang tak mau berbagi."

3. TAK BETAH DI RUMAH

Yang model begini suka sekali menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ke mal dan menghamburkan uang. Padahal, jika memang tujuannya mengisi waktu kan masih banyak kegiatan bermanfaat. Sementara di rumah pun rasanya mustahil bila tak ada pekerjaan dijadikan alasan keluyuran. Bukankah mendampingi anak belajar atau memanfaatkan waktu bersama anak merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat ketimbang mereka seharian bersama pembantu?

Namun, ada pula yang tak betah di rumah lantaran merasa belum cukup dengan apa yang sudah dilakukannya di rumah. Apalagi bila ia merasa kompeten dan berpeluang membina karier di luar karena punya keterampilan tertentu. Ada juga istri yang tak betah di rumah lantaran kesepian hingga ia mencari hiburan dengan keluyuran tak tentu arah. Nah, yang harus dicari adalah alasan ia tak betah di rumah. Bisa jadi pula karena hubungannya dengan suami kurang memuaskan. Atau, karena ingin menghindari keruwetan rumah tangga lantaran tak diajarkan/dibiasakan terampil memecahkan masalah, hingga yang ada hanya sekadar pelarian.

4. TUKANG NGOMEL

Sedikit saja ada yang tak berkenan di hati, ia langsung ngomel. Apalagi kalau ada yang bikin salah, omelannya bisa memekakkan telinga. Menurut Raymond, karakter ini muncul bukan lantaran perempuan pada dasarnya cerewet. "Karakter ini lebih merupakan mekanisme pertahanan untuk menunjukkan dirinya agar dihargai." Pasalnya, secara fisik yang bersangkutan tak mampu menyelesaikan masalahnya, hingga ditempuhlah cara dalam bentuk agresivitas yang dianggapnya paling aman dan terhormat ketimbang main lempar banting piring.

Raymond melihat, mengomel merupakan bentuk agresivitas yang paling sering muncul lantaran orang merasa frustrasi. Pemicunya berupa situasi yang serba "mengurung" hingga ia merasa tak berdaya. "Kalau ada masalah tapi enggak diselesaikan, pastinya kan bertumpuk. Nah, kalau ini selalu berulang, tentu sangat menjengkelkan dan terakumulasi. Apalagi jika sudah dikasih tahu baik-baik tapi tetap tak ada perubahan, ya, akan memunculkan agresi."

5. PENCEMBURU

Istri model ini amat posesif karena ia merasa tak aman. Coba telusuri lebih jauh penyebabnya sampai ke masa kecilnya, adakah ia punya pengalaman buruk. Soalnya, terang Raymond, "Mereka yang punya pengalaman tak enak berpotensi besar jadi cemburuan." Misal, apa yang ia miliki mudah hilang atau barang-barangnya yang dipinjam tak pernah kembali.

Kondisi kehidupan atau tuntutan tugas yang "memaksa"nya sering berpindah tempat juga bisa menjadi salah satu sebab munculnya karakter ini. Bukankah ia harus tercabut dari lingkungan lama yang sudah akrab dan selalu harus memulai dari awal lagi? "Nah, ini membuatnya merasa tak aman dan nyaman. Ia merasa segala yang telah dibina selalu sia-sia hingga timbullah posesivitas dan keresahan tingkat tinggi." Akibatnya, terhadap suami pun ia demikian; ia takut kehilangan orang yang dicintainya hingga punya kecemasan berlebihan kalau-kalau suaminya akan lepas juga darinya. Buntutnya, muncullah cemburu buta.

6. SLORDIG

Buat mereka, keteraturan tak terlalu penting. Itu sebabnya mereka tak terusik sedikit pun kala melihat si kecil belum juga mandi padahal hari hampir magrib atau mendapat tas kerja suami ada di tempat tidur, dan sebagainya. Bahkan, si kecil belum makan pun tak jadi soal buatnya. "Toh, kalau lapar nanti juga minta makan," begitu pikirnya. Rumah berantakan juga ia tenang-tenang saja.

Jika pasangannya juga seirama, mungkin tak jadi masalah. Namun, bila suaminya sangat teratur, bisa-bisa setiap hari ada "bom" meletus di rumah. Apalagi, si slordig ini tipe orang yang cenderung menunda-nunda pekerjaan dan menggampangkan masalah. Baginya, hidup ini seperti air mengalir, tak ada yang harus dikejar. Menurut Raymond, ketiadaan ambisi dan aspirasi ini lebih disebabkan pandangan yang salah kaprah tentang peran perempuan. "Di sini masih banyak yang mengganggap wanita egois kalau ingin bersekolah lagi atau bekerja. Dianggapnya tak perhatian pada anak, lebih mementingkan diri sendiri, dan sebagainya."

7. GILA KERJA

Ini sudah lampu kuning. Soalnya, bisa jadi ada something wrong dengan kehidupan rumah tangga Anda berdua hingga ia merasa tak nyaman, lalu mencari kompensasi dengan bekerja dan mengejar prestasi di bidang lain. Meski tak tertutup kemungkinan kegilaannya berhubungan dengan achievement atau ambisi mencapai sesuatu yang lebih. Akibatnya, ia merasa lebih betah di kantor ketimbang rumah, terlebih jika kondisi rumah juga mendukungnya untuk "lari" ke kantor. Ia merasa dihargai, mendapat kepercayaan dan kesempatan, jenjang kariernya jelas, dan situasi kerjanya pun menyenangkan.

Di samping itu, gila kerja juga didorong oleh kecenderungan untuk memiliki uang pribadi agar tak ada ketergantungan ekonomis pada suami. Sayang, reaksi orang-orang rumah, terutama suami, sering tak tepat semisal marah, menuduh, atau melecehkan, hingga yang kemudian muncul justru keinginan lebih untuk bekerja dan terus bekerja. Menurut Raymond, secara kasatmata biasanya sulit dibedakan antara yang gila kerja lantaran memang betul-betul menikmati ataukah hanya sekadar pelarian.

8. "PELAYAN SEJATI"

Masih banyak lho istri model ini. Penyebabnya adalah faktor budaya. Bukankah budaya kita, terlebih zaman dulu, mendudukkan perempuan lebih rendah dari pria? Jadi, sedari kecil perempuan sudah terbiasa kalah dan mengalah; dididik untuk selalu melayani, bukan dilayani. Selain itu, perempuan memang punya naluri untuk merawat hingga ada kecenderungan lebih mengutamakan suami dan anak.

Jika suami tergolong tipe yang senang dilayani, kloplah. Namun, buat suami yang lebih mementingkan diskusi antaranggota keluarga dan keterlibatan istri dalam pengambilan keputusan, tentulah sangat tak nyaman beristrikan model ini. Ia butuh istri yang bisa diajak ngobrol, bisa dimintai pendapat dan ide, bahkan bisa memutuskan apa yang terbaik buat suami kala menghadapi masalah. Dalam bahasa lain, ia butuh pasangan yang setara. Nah, jika kebutuhan ini tak diperoleh dari istrinya, bisa jadi ia akan mencarinya dari orang lain.

9. "TERSERAH MAS AJA DEH."

Kalau yang ini lebih karena sedari kecil tak dibiasakan memilih dan mengambil keputusan. Namun, bisa juga lantaran suami kelewat dominan atau boleh jadi ia punya pengalaman pahit/menyakitkan kala ikut menentukan pilihan. Misalnya, komentar suami yang melecehkan pendapat atau pilihannya. Istri sebaik dan sesabar apa pun pasti akan terluka hatinya. Akhirnya, ia lebih memilih diam daripada harus sakit hati. Namun buntutnya, bisa jadi ia ngomel di belakang menunjukkan kekecewaan.

|